Yas Marina's Books

Yas Marina's Books

Sabtu, 29 Oktober 2016

Ujian “Special for You” (Kisah Umrah 3)



Suami, saya, tante, sepupu dan paman di Madinah

Salah satu nasihat adik perempuan saya saat menentukan jadwal keberangkatan umrah adalah perhatikan jadwal haid. Jangan sampai waktu ibadah umrah yang sebentar itu terlewat begitu saja karena kita sedang haid. Saya pun mengecek kalender periodik yang terpasang di android saya. Yes, perkiraan di bulan april nanti, haid bakalan datang tanggal 27 april. Kebetulan tawaran umrah dari biro travel itu tanggal 13-21 april, jadi kemungkinan selama 9 hari di tanah suci saya bisa bebas beribadah.

Setelah fix mendaftarkan diri, saya pun mengabarkan niat saya pada keluarga besar di grup BBM. Eh, tanpa disangka. Tante, paman dan sepupu laki-laki saya malah pengen berangkat bareng juga. Keluarga besar senang sekali karena keluarga paman bisa berangkat bersama saya. Kondisi tante saya yang pasca sakit bisa dititipkan ke saya, kata mereka. Pasalnya di Masjid Nabawi, laki-laki dan perempuan kan terpisah. Jadi tante saya bisa saya temani. Alhamdulillah...saya sih bahagia saja mendengarnya karena bisa berangkat bersama suami dan anggota keluarga lain. Syukur-syukur kalau menolong Tante itu bisa jadi tambahan lahan ibadah saya.

Nah, karena saya yang pertama kali mencanangkan umrah di keluarga, mencari biro travel dan mendaftar duluan, otomatis keluarga banyak nanya-nanyanya ke saya. Tidak apa-apa. Saya memang sangat bersemangat dalam hal ini. Pokoknya seneeeng banget! Ibaratnya apa yang selama ini diidamkan kini terkabul.

Namun, entahlah. Agaknya Allah hendak menguji saya. Oya, saya dan adik perempuan saya punya suatu istilah bersama. Namanya: “ujian special for you”. Kenapa namanya demikian? Karena kadang kita suka terheran-heran dengan suatu kejadian yang sepertinya hanya dibuat khusus untuk kita. Bukan untuk orang lain. Salah satunya ya seperti kejadian keberangkatan umrah ini.

Keberangkatan di geser dari tanggal 13 ke tanggal 28 April 2016
Tepatnya pada saat latihan manasik pertama (tanggal 2 april 2016) di kantor biro travel itu diumumkan, ternyata keberangkatan umrah digeser menjadi tanggal 28 april. What?!! Sejenak para hadirin bergumam. Namun saya melihat tidak ada yang keberatan dengan tanggal itu. Mereka hanya minta kepastian kalau tanggal 28 april itu benar-benar bakal berangkat. Soalnya mereka khawatir kena penipuan umrah yang sempat marak diberitakan. Pihak travel pun memberikan jaminan bahwa rencana yang ini pasti jadi dengan menyebutkan soal visa, kamar hotel dan sebagainya. Agaknya penjelasan pihak travel cukup memuaskan sehingga tidak ada yang bertanya lagi.

Kebanyakan peserta memang sudah sepuh-sepuh, termasuk paman dan tante saya, para pensiunan. Bagi mereka, tidak ada halangan dari pekerjaan atau pun soal hormonal seperti saya. Bahkan ada yang menelepon entah pada saudaranya atau ke siapa dan berkata keras-keras, “Alhamdulillah...keberangkatannya diundur!”

Suami dan sepupu juga agaknya sih sama leganya dengan yang menelepon itu. Karena dengan diundurnya waktu keberangkatan, mereka lebih leluasa menuntaskan pekerjaan-pekerjaan kantornya. Hiks!

Saat itu saya merasa terperosok ke lubang yang sangat dalam. Bingung, apakah saya yang perlu ditolong ataukah siapa? Ya, sejak tante saya berminat ikut umrah bersama saya, saya sudah menekadkan diri untuk mendampingi beliau. Namun kini, bisakah saya mendampinginya?

Tante  menangkap kebingungan itu di mata saya. Beliau bilang, jangan sampai saya merasa diberatin olehnya. Kalau saya mau berangkat di luar jadwal yang ditentukan pihak travel atau mau ganti travel, ya silakan saja.

Saya belum tahu harus bilang apa. Ketika saya menyampaikan keberatan ini pada pihak travel, mereka mengatakan bahwa ini hal biasa. Masalah haid bisa diusahakan dengan minum obat penunda haid.

Sampai di rumah, saya googling soal obat penunda haid ini. Setelah membaca beberapa pengalaman blogger yang menggunakan obat penunda haid, saya pun menemukan secercah harapan. Benar ternyata, sudah banyak orang yang menggunakan obat ini. Namun merk yang ditawarkan di apotik bermacam-macam dan bisa dibeli tanpa resep dokter. Daripada bingung dan khawatir salah, saya pun mendatangi dokter spesialis kandungan terdekat untuk konsultasi.

Menurut dr.Annisa, dokter spesialis kandungan dan kebidanan yang memeriksa saya,  sistem kerja dari obat penunda haid itu adalah pengendalian hormon. Tubuh dibikin banjir hormon progesteron sehingga darah haid tidak luruh (itu yang saya tangkap, maaf-maaf kalau salah). Namun efek sampingnya, jika kondisi sekitar rahim tidak kuat, bisa timbul pecah pembuluh darah di rahim atau spotting. Kayak mimisan di hidung gitu. Nggak banyak-banyak. Paling bercak saja, kata beliau. Nah, flek darah yang keluar itu dijamin bukan darah haid. Seperti kalau  kita mimisan, ibadah tetap bisa dilanjutkan.

Obat penunda haid Lutenyl
Dari dokter, saya diberi resep untuk membeli obat penunda haid dengan merk Lutenyl dan obat untuk menghentikan darah jika keluar flex dengan merk Kalnex. Untuk Lutenyl, saya harus minum obat tersebut 7 hari sebelum jadwal haid saya. Jika haid saya diperkirakan tanggal 27 april, berarti saya harus meminum obat tersebut mulai tanggal 20 april dengan dosis 1 tablet/hari. Karena kekuatan obat tersebut 24 jam, diusahakan tiap hari minum obatnya di jam yang sama. Nah, mengingat waktu di tanah air dan di tanah suci berbeda sekitar 5 jam, saya pun memperkirakan kalau di tanah suci saya minum obat tiap jam 2 siang berarti di tanah air saya harus minum obat tersebut sekitar jam 9 pagi tiap harinya. Sedangkan untuk Kalnex, itu hanya persediaan saja. Baru diminum jika ada kasus keluar flex.

Obat jika spotting
Okey, akhirnya masalah ini terpecahkan juga. Walaupun hasilnya, saya tetap pasrahkan pada Allah swt. Pihak travel pun berkali-kali menyarankan, supaya saya jangan sampai merasa stress. Soalnya kata mereka, kalau saya stress, bisa jadi obat itu malah tidak bekerja. Hwaaa...bukannya kabar itu malah bikin stress ya? Hihi... Gimana nggak stress coba, saya yang paling semangat berangkat sampai ngajak-ngajak yang lain. Eh, malah saya yang memiliki kemungkinan terhalang berangkat. Subhanallah... benar-benar “Ujian Special for You” deh!

Tapi... terhalang berangkat itu kan baru kemungkinan. Belum kejadian. Haidnya juga belum kok. Lagipula, masalahnya sudah diusahakan penyelesaiannya dengan konsul ke dokter. Lha dokter dan pihak travel saja menganggap ini kasus biasa, kok. Jadi kenapa saya sampai kalang kabut begini, hah?! Dari situ saya beristigfar pada Allah, berserah diri, mengembalikan semua permasalahan pada Allah, memohon keridhoannya untuk dipanggil ke tanah suci. Benar-benar. Kalau Allah belum memanggil, pasti ada saja halangannya. Namun, jika Allah ridha, pasti Allah memberi kelancaran. Terima kasih Allah, kejadian ini membuat saya semakin bergantung pada-Mu.

Alhamdulillah, tanggal 27 april si merah tidak datang
Dan...alhamdulillah. Sampai waktu keberangkatan tiba, si merah tidak datang. Sampai saya melakukan thawaf wajib di Makkah pun, belum datang juga. Alhamdulillah...karena prosesi itulah inti dari umrah. Haid baru datang, itu sehari sebelum saya pulang ke tanah air. Ketika semua keinginan-keinginan di tanah suci telah saya tuntaskan hingga Allah memberi pertanda kepada saya supaya saya segera kembali ke hotel. Saat tiba di hotel itulah saya memandang Masjidilharam dari jendela untuk berpamitan. Mudah-mudahan suatu hari nanti, saya bisa masuk kembali ke Masjidilharam yang disucikan, aamiin....

12 komentar:

  1. Salam kenal dari Batam mbak 😊
    Dari dulu suka tanya2 sendiri dlm hati, klo mau ibadah haji atau umroh lg dapet gmn ya? Eh terjawab sudah dengan tulisannya mbak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi...alhamdulillah kalo udah dapat jawaban :)

      Hapus
  2. Salam kenal dari Batam mbak 😊
    Dari dulu suka tanya2 sendiri dlm hati, klo mau ibadah haji atau umroh lg dapet gmn ya? Eh terjawab sudah dengan tulisannya mbak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, salam kenal juga dari Bandung :)

      Hapus
  3. Ternyata waktu haid harus menjadi perhatian utama sebelum umrah ya, Mba? Noted. Terima kasih tulisannya sangat membantu...

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah ya mbak datang si merahnya pas udah mau pulang dan semua telah terselesaikan. Doakan aku segera nyusul ke tanah suci ya mbak ;))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku bersyukur banget. Aamiin...semoga Mba Muthi segera menginjakkan kaki di tanah suci :)

      Hapus
  5. Berarti obat penunda haid relatif aman ya utk situasi tertentu

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah sudah berdasarkan penelitian kan, Mba. Tapi kalau sering-sering bisa mengganggu siklus haid nantinya :)

      Hapus
  6. alhamdulillah jadi berasa sempurna ya bu ibadah umrah nya kalo si merah tidak datang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alhamdulillah bisa puas-puasin ibadah di sana :)

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)